Level/ Fase Pengembangan Karir

Perkembangan karir merupakan perjalanan untuk meningkatkan kemampuan dan pencapaian kerja seseorang agar sesuai dengan tujuan karir yang diinginkan. Prestasi kerja dan kepuasan pribadi menjadi indikator penting dari keberhasilan dalam pengembangan karir.

Arlend Setiawan

12/23/20241 min read

worm's-eye view photography of concrete building
worm's-eye view photography of concrete building

Perjalanan karir itu mirip seperti leveling dalam game: semakin kita upgrade kemampuan, semakin besar peluang kita untuk mencapai tujuan. Prestasi kerja dan rasa puas jadi indikator utama apakah kita "naik level" dengan baik. Super (Winkel & Sri Hastuti, 2013) membagi perjalanan ini ke dalam lima fase yang relatable banget buat kita semua:

1. Fase Growth (Pertumbuhan)

Fase ini dimulai dari kita lahir sampai sekitar usia 15 tahun. Di sini, kita mulai eksplor berbagai potensi, hobi, dan minat yang bikin kita mulai kenal siapa diri kita (alias konsep diri).

2. Fase Exploration (Eksplorasi)

Berlangsung dari usia 15 sampai 24 tahun. Ini momen paling asyik untuk coba-coba berbagai pilihan karir, cari tahu passion, dan lihat mana yang cocok. Tapi tenang aja, di fase ini kita belum wajib bikin keputusan besar yang “mengikat.”

3. Fase Establishment (Pemantapan)

Nah, di umur 25-44 tahun, waktunya kita serius “ngepush rank” di jalur karir yang sudah dipilih. Pengalaman kerja di sini penting banget untuk memperkuat skill dan memantapkan posisi.

4. Fase Maintenance (Pemeliharaan)

Di usia 45-64 tahun, kita lebih fokus menjaga kestabilan karir dan adaptasi dengan kondisi kerja yang ada. Ini fase buat ngejaga performa sekaligus menikmati hasil kerja keras sebelumnya.

5. Fase Decline (Penurunan)

Setelah 65 tahun, waktunya rehat dari dunia kerja alias pensiun. Di sini, kita mulai cari pola hidup baru yang lebih santai tapi tetap meaningful.

Apa yang Bikin Karir Jadi Matang?

Menurut Super (Zunker, 2012), kematangan karir bisa dinilai dari beberapa aspek, seperti:

  • Sikap: Seberapa serius kita memikirkan pilihan kerja.

  • Kompetensi: Kemampuan kita bikin planning karir yang spesifik.

  • Konsistensi: Apakah minat kita sejalan sama pekerjaan yang dijalani.

  • Realitas: Seberapa realistis pilihan karir kita dengan kemampuan yang dimiliki.

Sharf (2010) juga bilang, makin kita peduli sama pilihan kerja, makin matang karir kita nantinya.

Minat dan Bakat: Kunci Karir yang Seru dan Berarti

Pilih karir itu kayak pilih outfit: harus sesuai dengan minat dan pas sama “bakat” kita. Kalau dua hal ini sinkron, perjalanan karir jadi lebih smooth. Jadi, sebelum bikin planning karir, kenali dulu apa yang bikin kamu excited (minat) dan apa yang bikin kamu punya edge dibanding yang lain (bakat).

Ingat, perjalanan karir itu proses. Nikmati setiap fase dan terus upgrade skill-mu!